Mengapa Lelah dan Kurang Tidur Adalah Menu Harian Calon Dokter Indonesia

Admin_puskesjakut/ Desember 16, 2025/ Berita

Menjadi Calon Dokter Indonesia adalah impian mulia yang diiringi oleh pengorbanan yang ekstrem, terutama dalam hal waktu istirahat. Kurang tidur dan rasa lelah kronis seringkali dianggap sebagai “ritus peralihan” yang tak terhindarkan dalam pendidikan kedokteran. Beban akademik yang masif, ditambah dengan tuntutan praktikum dan jadwal stase yang panjang, menciptakan lingkungan di mana waktu tidur menjadi kemewahan yang langka, bukan kebutuhan dasar.

Beban kurikulum kedokteran jauh lebih padat dibandingkan jurusan lain. Calon Dokter Indonesia harus menguasai anatomi, fisiologi, farmakologi, dan ratusan topik klinis lainnya dalam waktu yang terbatas. Jam kuliah yang padat sering dilanjutkan dengan belajar mandiri dan mengerjakan tugas kelompok hingga larut malam. Siklus belajar tanpa henti ini secara langsung mengikis jam tidur yang seharusnya mereka dapatkan.

Memasuki tahap klinik, yang dikenal sebagai kepaniteraan atau koas, workload meningkat drastis. Calon Dokter Indonesia dituntut untuk berpartisipasi dalam jadwal jaga (shift) malam di rumah sakit. Jadwal jaga 24 hingga 36 jam berturut-turut bukanlah hal yang asing, menguji batas fisik dan mental. Kurang tidur ekstrem ini dikenal sebagai “budaya burnout” yang telah mengakar kuat dalam sistem pendidikan kesehatan.

Salah satu alasan di balik jadwal yang melelahkan adalah kebutuhan untuk mendapatkan pengalaman klinis yang komprehensif. Semakin banyak jam yang dihabiskan di rumah sakit, semakin banyak kasus yang dapat dilihat dan ditangani oleh Calon Dokter Indonesia di bawah supervisi. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap lulusan memiliki kompetensi dan kepercayaan diri yang memadai sebelum mereka terjun langsung melayani masyarakat.

Meskipun bertujuan baik, kekurangan tidur berdampak serius pada kemampuan kognitif. Kelelahan dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat waktu reaksi, dan bahkan memengaruhi pengambilan keputusan klinis. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran etis, karena keselamatan pasien bergantung pada ketajaman pikiran dokter muda yang sedang bertugas.

Tekanan sosial dan akademik juga memperburuk masalah. Ada anggapan tidak tertulis bahwa tidur adalah tanda “malas” atau “kurang berkomitmen.” Budaya kompetitif yang tinggi ini mendorong calon dokter untuk mengorbankan kesejahteraan pribadi demi mengejar nilai sempurna dan pujian dari senior atau dosen pembimbing, semakin membenarkan gaya hidup yang tidak sehat.

Untuk mengatasi krisis ini, perlu adanya reformasi sistemik. Regulasi yang lebih ketat mengenai jam kerja maksimal dan penyediaan dukungan kesehatan mental adalah langkah krusial. Sekolah kedokteran harus menekankan pentingnya self-care dan membuat jadwal yang lebih manusiawi, membuktikan bahwa kompetensi tidak harus dibayar dengan kesehatan.

Share this Post